Monday, March 21, 2011

ALUNA ROGA


Di sebuah kamar bercat terakota dan bermuatan seni yang diciptakan dengan rasa yang syahdu serta hasrat bergejolak tinggi penuh erotika imajinasi, kadang kala ide Ia ciptakan. Entah membuat boneka kecil yang selalu ia namai berbeda-beda, anyaman tali yang kemudian dijadikannya kalung, atau syal penutup lehernya yang jenjang, serta diam dengan membuat draft-draft pokok kreatifitas di otaknya. Lebih dari 5 GB kapasitas otaknya mungkin selalu dijadikannya tempat untuk menyimpan ide dan kreatifitas yang selalu ia temui dalam waktu apapun. Terutama sore hari. Ia menyukai sore, sore yang untempo, sore yg ritmis dan romantic namun kadang kala melodic.

Suatu sore ia melewati langit dan tertidur di awan. Ia menyukainya, karena awan lebih lembut dari sprei bulu angsa. Udara tipis dan sejuk seperti di pegunungan perawan menghimpit masuk lubang hidungnya yang kecil. Suara riuh tetapi terdengar kewibawaan dan atributnya menghentikan udara itu. Ia terbangun dan melihat sekumpulan orang tak biasa didekatnya, Di tegurnya lembut, keras, mengeras, dan sangat keras. Mereka tak mendengar, tidak sama sekali. Apakah mereka tidak melihatnya. Padahal jarak mereka begitu dekat 3 jengkal saja Ia sanggup menendangnya.

Siapa mereka, sepertinya sangat Ia kenal. Tunggu sebentar " dalam hati ia cepat2 mengingat, merekam ". Ya! Ia tahu siapa mereka. Pria tua yang masih tegap di barisan depan adalah Pak Karno, IR. SOEKARNO. Tepat di belakang nya seorang pemuda berwajah berbeda dengannya dan ras yg sangat berbeda tengah memetik gitar lirih dengan tangan kirinya, bukankah dia KURT COBAIN, lalu yang bernyanyi disebelahnya itu adalah BENYAMIN SUEP. Bagaimana mungkin KURT bisa mengiringi Bang Ben dengan lagu betawi seperti itu pikirnya. Lalu yang sedang berbicara dengan Pak Karno itu bukannya Om Pram, PRAMOEDYA ANANTA TOER. argghhhh... aku ingin meminta tanda tanggannya, OMMMMMMM.... percuma, dia tidak mendengar pikirnya. heiyy, sedang apa pria berkacamata itu, Lenon, yah, JOHN LENON kan, kenapa ia memasak, siapa yang membuat kopi bersamanya itu, ohh....JANIS JOPLIN, aku hafal betul kacamatanya itu, mereka berdua sama-sama berkacamata. heiyy siapa dia, wanita yang wajahnya lembut dan terus saja  menyusun sepatu-sepatu dan kemeja suaminya dengan rapi, ya Tuhan...bukankah itu Ibu AINUN HABIBI...

Raumen ini begitu membuatnya bingung dan mengisyaratkan bahwa ia berada di antara orang-orang yang selalu menjadikannnya bagian dari inspirasi sore yang selalu ia ciptakan, sudut matanya lekat-lekat tak berhenti melihat, mendengar ritme alunan fragmen ini. seperti menyala, menyalak, dan berdegup. Bahwa ia seorang perempuan yang bernama Aluna Roga, tengah berada dalam kumpulan orang-orang angker...


(bersambung.....)

No comments: